Senin, 01 Desember 2008

kasus alih fungsi hutan mangrove

indosiar.com, Jakarta - Mantan Ketua Komisi IV DPR, Yusuf Emir Faizal mengaku Anggota Komisi IV telah kebablasan memberikan rekomendasi alih fungsi hutan mangrove Tanjung Api Api menjadi Pelabuhan. Menurut Emir, rekomendasi yang diberikan karena teman-temannya tergiur dana dari Pemda Sumatera Selatan.

Sidang lanjutan kasus suap alih fungsi hutan Tanjung Api Api Sumatera Selatan dengan terdakwa Anggota DPR Sarjan Taher, Rabu (26/11/08) kemarin, kembali mendengarkan keterangan saksi, diantaranya mantan Ketua Komisi IV DPR, Yusuf Emir Faizal.

Kepada Majelis Hakim Pengadilan Tipikor Jakarta, Emir mengakui keputusan Komisi IV yang dipimpinnya dalam hal ini tim alih fungsi hutan yang memberikan rekomendasi alih fungsi hutan mangrove Tanjung Api Api menjadi Pelabuhan Tanjung Api di Banyuasin, Sumatera Selatan pada Juni 2006 lalu adalah sebuah kebablasan, karena tergiur uang 5 milyar dari Pemda Sumatera Selatan. Seharusnya Komisi IV tidak memberikan rekomendasi, karena saat ini belum dilakukan survie oleh sebuah tim independen soal strategi tidaknya hutan mangrove tersebut untuk menjadi sebuah pelabuhan.

Emir juga memberatkan posisi terdakwa Sarjan Taher. Menurutnya, Sarjan tidak memiliki kapasitas menjalin hubungan dengan Pemda Sumatera Selatan, karena bukan bagian dari tim alih fungsi hutan, melainkan di bidang pertanian.

Namun Emir tidak berkutik saat dicecar majelis hakim Andi Bachtiar, karena selaku ketua komisi Emir tidak menegur Sarjan, malahan mengikuti permainan Sarjan dan ikut mencicipi oleh - oleh uang dari Pemda Sumsel besar 625 juta rupiah.

JENIS - JENIS MANGROVE

Kita bisa dengan mudah membedakan tumbuhan mangrove dengan tumbuhan darat hanya dengan melihat bentuk akarnya. Bentuk akarnya yang unik dan indah membuat tumbuhan payau ini berbeda dengan tumbuhan lainnya di buni ini. Mangrove ‘terpaksa’ beradaptasi dengan mencuatkan akar-akarnya ke udara, untuk menghindari sedimennya yang anoksik alias mengandung racun-racun yang berbahaya bagi tubuhnya.


Keunikan dan bentuk akarnya yang mencuat ke atas ini, digunakan oleh para peneliti sebagai salah satu cara yang paling jitu untuk mengetahui spesiesnya. Menurut Kitamura, et al (1997), terdapat 6 jenis tipe akar mangrove. Berikut ini deskripsi masing-masing akar mangrove tersebut:

1.Akar Tunjang adalah akar udara yang tumbuh di atas permukaan tanah, mencuat dari batang pohon dan dahan paling bawah serta memanjang ke luar dan menuju ke permukaan tanah. Contoh: Rhizophora spp.

2.Akar Nafas adalah akar udara yang berbentuk seperti pensil atau kerucut yang menonjol ke atas, terbentuk dari perluasan akar yang tumbuh secara horisontal. Contoh: Avicennia spp.

3.Akar Lutut adalah akar horisontal yang berbentuk seperti lutut terlipat di atas permukaan tanah, meliuk ke atas dan bawah dengan ujung yang emmbulat di atas permukaan tanah. Contoh: Bruguiera spp.

4.Akar Papan adalah akar yang tumbuh secara horisontal, berbentuk seperti pita di atas permukaan tanah, bergelombang dan berliku-liku ke arah samping seperti ular. Contoh: Xylocarpus spp.

5.Akar Banir adalah struktur akar seperti papan, memanjang secara radial dari pangkal batang. Ceriops spp.

6.Akar Tanpa Akar Udara adalah akar biasa, tidak berbentuk seperti akar udara. Contoh: Aegiceras spp.

FUNGSI HUTAN MANGROVE

FUNGSI DAN PERANAN MANGROVE

Ekosistem mangrove merupakan sumberdaya alam yang memberikan banyak keuntungan bagi manusia, berjasa untuk produktivitasnya yang tinggi serta kemampuannya memelihara alam. Mangrove banyak memberikan fungsi ekologis dan karena itulah mangrove menjadi salah satu produsen utama perikanan laut. Mangrove memproduksi nutrien yang dapat menyuburkan perairan laut, mangrove membantu dalam perputaran karbon, nitrogen dan sulfur, serta perairan mengrove kaya akan nutrien baik nutrien organik maupun anorganik. Dengan rata-rata produksi primer yang tinggi mangrove dapat menjaga keberlangsungan populasi ikan, kerang dan lainnya. Mangrove menyediakan tempat perkembangbiakan dan pembesaran bagi beberapa spesies hewan khususnya udang, sehingga biasa disebut “tidak ada mangrove tidak ada udang” (Macnae,1968).

Mangrove membantu dalam pengembangan dalam bidang sosial dan ekonomi masyarakat sekitar pantai dengan mensuplai benih untuk industri perikanan. Selain itu telah diketemukan bahwa tumbuhan mangrove mampu mengontrol aktivitas nyamuk, karena ekstrak yang dikeluarkan oleh tumbuhan mangrove mampu membunuh larva dari nyamuk Aedes aegypti (Thangam and Kathiresan,1989). Itulah fungsi dari hutan mangrove yang ada di India, fungsi­fungsi tersebut tidak jauh berbeda dengan fungsi yang ada di indonesia baik secara fisika kimia, biologi, maupun secara ekonomis.

Secara biologi fungsi dari pada hutan mangrove antara lain sebagai daerah asuhan (nursery ground) bagi biota yang hidup pada ekosisitem mengrove, fungsi yang lain sebagai daerah mencari makan (feeding ground) karena mangrove merupakan produsen primer yang mampu menghasilkan sejumlah besar detritus dari daun dan dahan pohon mangrove dimana dari sana tersedia banyak makanan bagi biota-biota yang mencari makan pada ekosistem mangrove tersebut, dan fungsi yang ketiga adalah sebagai daerah pemijahan (spawning ground) bagi ikan-ikan tertentu agar terlindungi dari ikan predator, sekaligus mencari lingkungan yang optimal untuk memisah dan membesarkan anaknya. Selain itupun merupakan pemasok larva udang, ikan dan biota lainnya. (Claridge dan Burnett,1993)

Secara fisik mangrove berfungsi dalam peredam angin badai dan gelombang, pelindung dari abrasi, penahan lumpur, dan perangkap sedimen.

Dimana dalam ekosistem mangrove ini mampu menghasilkan zat-zat nutrient (organik dan anorganik) yang mampu menyuburkan perairan laut. Selain itupun ekosisitem mangrove berperan dalam siklus karbon, nitrogen dan sulfur.

Secara ekonomi mangrove mampu memberikan banyak lapangan pekerjaan bagi masyarakat, baik itu penyediaan benih bagi industri perikanan, selain itu kayu dari tumbuhan mangrove dapat dimanfaatkan untuk sebagai kayu bakar, bahan kertas, bahan konstruksi yang memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi. Dan juga saat ini ekosistem mangrove sedang dikembangkan sebagai wahana untuk sarana rekreasi atau tempat pariwisata yang dapat meningkatkan pendapatan negara.

Ekosistem mangrove secara fisik maupun biologi berperan dalam menjaga ekosistem lain di sekitarnya, seperti padang lamun, terumbu karang, serta ekosistem pantai lainnya. Berbagai proses yang terjadi dalam ekosistem hutan mangrove saling terkait dan memberikan berbagai fungsi ekologis bagi lingkungan. Secara garis besar fungsi hutan mangrove dapat dikelompokkan menjadi :

1. Fungsi Fisik

  • Menjaga garis pantai
  • Mempercepat pembentukan lahan baru
  • Sebagai pelindung terhadap gelombang dan arus
  • Sebagai pelindung tepi sungai atau pantai
  • Mendaur ulang unsur-unsur hara penting

2. Fungsi Biologi -Nursery ground, feeding ground, spawning ground, bagi berbagai spesies udang, ikan, dan lainnya -Habitat berbagai kehidupan liar

3. Fungsi Ekonomi

  • Akuakultur
  • Rekreasi
  • Penghasil kayu